Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts
Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts

Sunday, June 3, 2012

Arke di Planet Titan

Senin, 2 Januari 2027, Perairan Masalemb kembali menelan korban. Kali ini sebuah kapal pesiar bernama Mary yang khusus ditumpangi oleh keluarga para korban kecelakaan pesawat Adam Air yang tenggelam di Perairan Masalembo untuk memperingati dua puluh tahun tragedi Adam Air. Namun, tiba-tiba saja kapal itu dikabarkan tenggelam dan hingga saat ini bangkai kapalnya belum bisa ditemukan. Dalam kasus ini, Prof. Adikusumo, dosen Universitas Indonesia angkat bicara, "Ini bukan kasus pertama, tapi ini juga tidak ada kaitannya dengan hal mistis. Masalembo hanya misteri alam yang belum terpecahkan. Sama seperti Segitiga Bermuda." Namun, masyarakat Indonesia tampak tetap panik dan memilih enggan berpergian ke Sulawesi melewati perairan Masalembo. (Berita Indonesia edisi 2 Januari 2027)

"Bacalah!" perintah seorang remaja pria usai membacanya kepada temannya yang asyik menonton televisi dan melemparkan koran tersebut tepat di hadapannya. Penasaran, ia pun tak ragu-ragu membacanya. Toh, sedang iklan, pikirnya. Sejenak lengang suara, hingga sebuah suara yang sedikit menggelegar memecah kelengangan.
"Berita macam apa ini? Basi!" komentarnya.
"Aku sungguh penasaran."
"Kenapa?" tanyanya sambil mengerutkan dahinya.
"Tentang dunia lain di bawah tempat itu. Aku yakin ada sesuatu yang lain. Yang tersembunyi. Yang mungkin aku, kau, orang tua kita, pacar kita, siapapun jua akan sampai di sana pada suatu saat nanti. Kita hanya menunggu giliran."
Seketika temannya seperti menelan ludah. Namun, secepat itu pula ia mengabaikannya. Ruangan kembali senyap seketika meski suara televisi begitu kencang terdengar. Mereka hanyut dalam pikiran mereka masing-masing.
             ***
Kemarin, 1 Januari 2027

Kapal Mary masih mengapung tenang di atas air saat ketua penyelenggara acara peringatan dua puluh tahun tragedi Adam Air yang juga merupakan Cagub Ibukota memberi sambutan atau lebih tepatnya basa-basi bagi Arke. Itu semua hanya pencitraan di matanya yang menganggap acara ini sebagai salah satu cara mengambil simpati rakyat agar ia menang dalam pilkada. Semua hanya topeng yang menutupi tengkorak yang sesungguhnya. Begitulah asumsinya. Ia sudah terlanjur menaruh perasaan negatif kepada orang-orang besar negeri ini.

Acara sambutan selesai, kini tiba saatnya acara penaburan bunga. Kapal bekas yang baru direnovasi itu kini berada tepat di lokasi yang diyakini merupakan titik tenggelamnya pesawat Adam Air. Di saat-saat inilah, sembari menabur bunga, Arke teringat dengan perlakuan kasarnya kepada orang tuanya, khususnya ibunya. Dahulu Arke sering membantahnya, melawannya, bahkan tak ada kata "tunduk kepada ibu" dalam kamusnya. Kepada bapaknya, dia takutnya setengah mati, namun di hatinya terpelihara sebuah kebencian.

Dua puluh tahun yang lalu, saat terakhir Arke bertemu kedua orang tuanya, dia secara mentah-mentah menolak ajakan kedua mereka untuk berlibur ke Makassar–tempat kakek-nenek dari ayahnya. Jelas saja dia tak ingin ke sana lagi–kampung yang terletak di tengah-tengah kebun karet itu. Lebih baik di sini, katanya. Semua ada, tidak perlu repot-repot, tidak seperti di sana. Terpencil dan serba sulit. Tapi, sampai saat ini, ia masih tak menyangka bila itu adalah saat terakhir ia menatap raut muka orang tuanya yang sejak bayi selalu ada untuknya. Andai, waktu yang ajaib itu memberikannya sebuah kesempatan kembali ke masa itu, ia rela ikut bersama orang tuanya dan kehilangan nyawa. Tetes air mata perlahan jatuh. Setetes demi setetes. Ia tak peduli, toh kata siapa seorang laki-laki tak boleh menangis? Semua seakan gelap, hanya ia sendiri di atas kapal itu.

Tiba-tiba, Arke merasa sebuah getaran dari dalam air. Seakan ada gelembung raksasa yang tengah ingin menyembul ke permukaan air. Dia tahu getaran itu makin terasa, makin naik, dan tak sabar ingin menelan kapal itu. Benar saja, kapal mendadak bergetar, bergoyang tak karuan. Namun, suara gemuruh yang begitu besar masih kalah tersaingi dengan teriakan para penumpang yang panik dan berhamburan. Hanya dia yang masih berdiri tenang dan dia mulai merasakan sesuatu yang kuat mulai menarik kapal besar ini ke dalam air.

Selang beberapa lama kemudian, dia sudah merasakan air menariknya, bersama bangkai kapal yang lebih dulu tertarik mendahuluinya. Dia berusaha melawan. Dia juga masih bisa melihat orang-orang di segala arah yang juga turut tertarik ke bawah. Namun, tiba-tiba gelap. Ia membiarkan gelap menaklukannya.

            ***

Saturday, April 14, 2012

Aku, Dian, dan Misteri Sepatu & Kunci yang Hilang

foto: google.com


Selasa, 10 April


Seperti hari-hari yang lain yang telah lalu semenjak aku menjadi penghuni gelap Asrama UI dan terlibat kasus hilangnya HP & PSP itu*, aku selalu bangun lebih awal ketimbang sahabatku, Nur Diansyah. Hari itu sudah pukul tujuh kurang sepuluh menit dan tanpa ba-bi-bu atau membangunkan Diansyah, aku langsung membuka lemari dan mengambil gayung berisikan sikat gigi, sabun, pasta gigi, dan pelembab. Lalu dengan langkah gontai karena mata masih merem-melek, aku membuka pintu dan alangkah terkejutnya saat aku menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang. Sepatu Dian hilang!

"Dian, sepatumu hilang!" teriakku sambil menggoyang-goyangkan badannya.
Sekejap dia lalu membuka matanya dan matanya seakan menanyakan kembali apa yang barusan aku katakan.
"Sepatumu hilang," ulangku.
"Apa?" ujarnya kaget. Dia langsung menarik sarung yang dijadikan selimutnya itu dan melongok ke luar.
"Tapi kok sepatumu ada, Thir?"
"Entahlah, mungkin karena sepatumu baru dicuci hari Minggu yang lalu jadi masih terkesan baru. Nah, sepatuku saja masih kotor."
"Ah, sial! Sialan maling-maling itu! Waktu itu sendal dan sepatu Yusuf juga hilang beberapa minggu yang lalu. Sekarang giliranku!"
"Sabar, sabar, aku rasa pelakunya sama dan mungkin dengan modus yang sama."
"Ya, dia pasti langsung menjualnya!"
"Mungkin, tapi belum tentu. Bisa jadi pelaku kita ini memiliki suatu penyakit yang mana dia memang senang mengambil barang orang lain."
"Apa? Orang gila macam apa itu?" mukanya makin memerah.
Aku hanya mengangkat bahu.
"Dia pasti akan berulah lagi dalam waktu dekat ini. Pasti. Menurutmu siapa?" tanyanya lagi.
"Semua punya kans untuk duduk di kursi pelaku, Diansyah. Tetanggamu di lantai tiga ini, baik itu Rifky, Algor, atau siapa saja bisa menjadi pelaku, kecuali Yusuf, karena dia sendiri adalah korban. Penghuni asrama yang ada di lantai atau gedung lain, atau OB, atau pula satpam, semua berpeluang. Kita hanya perlu bukti untuk menguatkannya. Bila perlu kita harus menjebaknya." jawabku bergaya detektif handal.

Semenjak keseringan membaca novel-novel misteri karya S. Mara Gd, aku memang bertingkah detektif seperti Gozali, tokoh detektif kepolisian di dalam novel-novel misteri tersebut yang jika dibilang sesuai dengan diriku, baik dari penampilannya maupun sifat dan sikapnya. Dan dengan hilangnya sepatu Diansyah ini adalah langkah awal bagiku untuk mewujudkan obsesi aneh tersebut. Obsesi untuk memecahkan sebuah misteri atau kasus kejahatan. Aku tertawa dalam hati.
"Ya sudah, mandi dulu kau. Sudah jam tujuh lewat lima menit."
"Lalu kau nanti berangkat kuliah pakai sepatu apa?"
"Aku punya sepatu dua. Satu lagi ada di kamar Fuad. Nanti bisa kuambil."
Aku mengangguk dan langsung bergegas ke kamar mandi. Sambil mandi, pikiranku melayang memikirkan siapa orang di balik semua ini.

                ***


Jum'at, 13 April


Setelah dua malam tak menemui hasil, Jum'at malam, aku dan Diansyah memutuskan untuk tidak tidur di kamar kami, tapi mengikuti ajakan Jalal untuk berkemah sekaligus bermalam di hutan UI lalu keesokan paginya memungut sampah-sampah yang berhamburan di pinggir-pinggir danau UI yang benar-benar tak sedap dipandang mata.

Diansyah baru datang saat aku dan Jalal selesai membuat tenda. Malam itu sudah pukul sebelas malam. Dia membawa botol Aqua di tangan kanan dan dua buah bantal di tangan kiri yang ia pepetkan dengan pinggangnya. Dia lalu duduk karena terlihat sangat letih.

Setelah itu, kami bertiga bersenda gurau sambil menikmati indahnya malam. Bernyanyi dan juga berdebat mengenai masalah ini-itu. Sorot lampu dari pos penjaga di seberang danau sebelah sana yang dijadikan tempat bermain golf sempat mengarah ke arah kami dan kami melambaikan tangan sebagai tanda bahwa kami hanya berkemah di sana. Lalu sebuah perahu nelayan juga melintas di depan kami yang kemudian menyorotkan senter ke arah kami seakan menyapa kami meski wajah si pencari ikan tersebut sama sekali tak terlihat. Sekitar pukul dua malam, kami semua baru mulai beranjak tidur.

                  ***

Friday, March 2, 2012

Mulia

Setiap manusia pastinya ingin hidup mulia. Namun, kata "mulia" di sini ternyata hanya berasaskan kekayaan, materi, harta, ataupun segala sesuatu lainnya yang berhubungan dengan keduniawian. Jarang sekali kita menemukan orang yang mencari kemuliaan di akhirat kelak (syukur-syukur jika mulia di dunia dan akhirat). Peluangnya mungkin satu banding sejuta. Ya, sejuta. Atau mungkin lebih.


foto: google.com

Saat hidup bagai sebuah roda, terkadang kita harus siap untuk berada di bawah bagi yang sudah di atas ataupun berada di atas setelah mati-matian bertahan hidup di bawah roda. Namun, bukan tak mungkin jika roda kehidupan kempes, sehingga tak berputar-putar. Yang di atas tetap adem ayem dan yang di bawah tetap berkucuran keringat. Tak tanggung-tanggung, kadang keringatnya pun berwarna merah alias keringat darah. Tapi, anehnya, banyak di antara mereka seakan tak merasakan sakit sampai pada waktunya, darah mereka habis di jalanan. Lalu tergeletak tak bernyawa. Mayatnya wangi namun tak tercium.

Mantan tetangga saya, sebut saja Fariz. Usianya dua puluh tahun tahun lebih muda dari umur saya yang bagai jarum jam menunjukkan angka 39 (walau angka pada jarum jam hanya sampai 12).  Pada masa kecilnya dulu dan sekitar setahun yang lalu, ia masih merupakan anak seorang pengusaha sukses. Sebelum sebuah bencana kebakaran meludeskan semua aset berharga tanpa ada sisa. Roda benar-benar telah berputar pada kasus ini. Tak kempes.

Jauh sebelum ia lahir, ayahnya adalah seorang yang gigih dan pekerja keras serta rajin beribadah. Dia tak pernah berhenti belajar serta berkarya, hingga akhirnya ia dapatkan hasilnya dengan sangat manis. Walau pada dasarnya, ayahnya ayah Fariz alias kakek Fariz adalah seorang yang sudah kaya raya tapi ayahnya Fariz tak mau hidup hanya dengan meneruskan apa yang sudah dimiliki kakeknya Fariz. Dia pribadi yang mandiri dan ingin memulainya dari nol. Dan tak berapa lama selang keberhasilan ayahnya Fariz, kakek Fariz meninggal di usia 63 tahun. Saat itu Fariz belum lahir bahkan ayahnya Fariz pun belum menikah.

Sekitar 1,5 tahun setelah kematian itu, ayahnya Fariz bertemu dengan seorang perempuan bernama Amelia. Pertemuan mereka di sebuah restaurant di Ibukota begitu sangat romantis. Singkatnya, setelah kedua-duanya mantap dengan cinta mereka, mereka menikah pada bulan September 1995 dan sejak saat itulah pasangan ini menjadi tetangga saya, hingga sebuah kebakaran di malam yang kelam, sedikit memisahkan kedekatan saya, Fariz, dan ayah serta ibunya.

                              ***

Friday, February 3, 2012

Veny & Nila: Duo Seksi Dari Gang Sawo

Sejak dulu sampai sekarang, selalu ada pernyataan yang menyatakan bahwa jadi perempuan itu susah. Mau begini, takut dibilang murahan. Mau begitu, nanti dikira sok jual mahal. Mau ini itu, bisa dicap matrealistis. Tapi, biar bagaimana pun sifat dan perilaku seorang perempuan, tetap saja ada suatu benang merah yang membuat mereka khas dan itu bisa ditemukan di dalam hati dan perasaannya.


foto: Facebook Veny Oktaviani Darmawan

Alkisah, pada suatu waktu di dunia yang fana ini, tinggallah dua perempuan yatim-piatu yang merupakan kakak-beradik. Mereka berdua sudah ditinggal mati sang ibu sejak si kakak berusia empat tahun dan si adik berusia dua tahun di bawahnya. Sedangkan, ayahnya pergi meninggalkan sang ibu saat si adik masih menjadi janin di dalam kandungannya. Sampai saat ini, tak pernah diketahui keberadaan ayahnya, meski 17 tahun telah berlalu. Dan selama rentang waktu 15 tahun, mereka diasuh oleh paman dan bibi mereka, yang merupakan adik dan ipar dari sang ibu.

Si kakak bernama Nila, umurnya sudah 19 tahun dan bekerja sebagai SPG di sebuah perusahaan ternama di Ibukota. Lalu si adik bernama Veny, masih duduk di bangku SMA. Mereka berdua dijuluki Duo Seksi dari Gang Sawo, karena mereka berdua memang seksi, bahkan keseksiannya sudah terkenal sampai ke kampung-kampung tetangga. Hari ini, Veny yang berzodiak Libra ini genap berusia 17 tahun. Pesta kecil-kecilan digelar di rumah pamannya untuk merayakan Sweet Seventeen-nya.

Ada sebuah mitos yang menyatakan bahwa apapun permintaan di hari ulang tahun yang ke-17, maka permintaan itu pasti tekabul. Entah mengapa mitos tak pernah disingkirkan dan orang lebih memilih jalan aman untuk menghindarinya jika mitos itu berbau negatif dan akan mencoba jika mitos itu berbau positif. Nah, hal itulah yang coba dilakukan Veny di hari ulang tahunnya yang ke -17 kali ini.

"Ayo bikin permohonan," ujar sang paman diiringi lagu Selamat Ulang Tahun yang didendangkan bibi, Nila, dan beberapa rekan-rekan Veny yang hadir.
Sembari menutup mata dan menyematkan doa tulus dalam hatinya, ia menutup lilin berbentuk angka 17 di atas kue tar cokelat yang kemudian ditepuki dengan meriah oleh semua yang ada di dalam ruangan. Veny tersenyum manis di tengah gemuruh suara tepuk tangan. Dia begitu bahagia, terlebih bila suatu saat nanti doa tulusnya jadi kenyataan.

                 ***

Wednesday, February 1, 2012

Kisah Cinta Anak Sastra

Pada suatu masa, seorang ahli astrologi yang terpaksa menahan keinginan buang air kecilnya di sebuah perjamuan makanan (karena pada masa itu, buang hajat di saat perjamuan makanan sangatlah tidak sopan), mengalami pembengkakan pada anusnya dan meninggal dunia sebelas hari setelahnya. Lalu, seakan mengulang kejadian yang sama, seorang ibu yang mengikuti perlombaan menahan buang air kecil setelah minum beberapa botol air mineral juga harus meregang nyawa akibat menahan buang air kecil.* Jika menahan buang air kecil saja dapat menyebabkan kematian, pertanyaanya; apakah kita akan mati jika menahan perasaan cinta kepada seseorang?

Hal bodoh itulah yang kini tengah dirasakan dua sekawan berbeda sifat namun sama jenis kelamin, Riko dan Dwi. Riko adalah anak Kota Metropolis yang hidupnya tak pernah sepi dari kerlingan keindahan duniawi. Hidupnya pun sudah jauh dari Penciptanya sendiri. Tak pernah lagi ada sedetik pun nama Tuhan dalam ingatannya apalagi berjumpa dengannya dalam ibadah salat yang harusnya wajib dilakukan. Beralih ke Dwi, dia adalah antonimi dari Riko. Salat wajib dan salat sunah selalu ia jalankan. Ayat-ayat suci selalu ia babat habis setiap sore hari. Puasa Senin-Kamis menjadi pelengkapnya. Namun, bagaimana mereka bisa bertemu, bersahabat, dan sama-sama mengalami kisah cinta yang gersang?
foto: google.com
                      
                                            ***

Monday, January 30, 2012

Beasiswa

Almarhum Ibuku pernah berkata seperti ini kepadaku: "Kamu sudah diberi jalan, Nak. Hanya saja jalan yang akan kamu lalui itu penuh beling dan duri. Nah, sekarang tinggal bagaimana cara kamu menyingkirkan pecahan beling dan duri-duri itu hingga sampai ke ujung jalan?"
foto: google.com

Kata-kata singkat penuh makna itu selalu aku ingat karena itu adalah petuah terakhir ibu sebelum ia menghadap Illahi beberapa bulan yang lalu karena penyakit jantung yang telah lama dideranya atau setelah aku diterima di salah satu universitas terbaik di negeri ini dengan memperoleh beasiswa dari pemerintah.

Kematian ibu jelas membuatku terpukul. Terang saja, karena aku tak pernah menduga sebelumnya akan ditinggal secepat ini, sebelum aku dapat membahagiakannya. Saat Sang Malaikat Maut menjemput ibu, aku sedang menjalani Kamaba (Kegiatan awal mahasiswa baru) atau mungkin lebih dikenal dengan sebutan ospek.

Siang yang begitu panas di bulan puasa itu terasa tambah panas dan membuatku semakin berkeringat saat tetanggaku yang juga merupakan mantan teman kerja ibuku meneleponku, mengabarkan bahwa penyakit jantung ibuku kambuh lagi dan dalam kondsi yang gawat darurat. Aku bergegas pulang setelah meminta izin kepada panitia Kamaba.

Di sisi lain, ayahku, yang pada saat bersamaan sedang bekerja di bengkel juga langsung meminta izin pulang. Di dalam angkot yang penuh penumpang dan panas, rasa was-was dan khawatir membayangiku saat itu. Aku sangat takut sekali kehilangan ibuku yang lembut dan penuh kasih sayang sekalipun aku sering bandel di masa kecilku. Tetes air mata rasanya ingin mengalir tapi sekuat mungkin aku tahan di antara orang-orang tak kukenal yang berada di dalam angkot.

Seperempat jam berlalu. Terik bara neraka yang membakar tubuh serta pikiran menemaniku dalam setaip langkah menuju rumah selepas turun dari angkot. Namun, sesampainya di rumah, aku melihat para tetangga sudah penuh mengerubungi pelataran rumahku. Dari situ, aku menyadari sesuatu yang tak kuinginkan.

Aku masuk ke dalam rumah. Jasad ibu terbaring kaku dengan bibir yang sepertinya tersenyum.
"Ibumu meninggal 5 menit yang lalu, dek. Sabar ya," ujar salah seorang tetanggaku sambil merangkulku. Aku melepaskan diri dari rangkulannya dan menangis sesunggukkan tanpa sepatah kata apapun di depan jasadnya. Tak lama kemudian, ayah datang, yang kemudian ikut menyusulku menangis bersama. Suasana haru menyelubungi dinding, pintu, dan atap rumahku. Membuat mereka seakan ikut menangis.

Itu adalah saat-saat terakhir aku melihat wajah ibu. Kini, meski sudah tiada, kenangan bersamanya takkan pernah mati, begitu pula petuah terakhirnya. Aku akan menyingkirkan segala duri dan beling dan sampai di ujung jalan dengan senyum bahagia. Pasti.

                          ***

Friday, January 20, 2012

Ketika Sesorang Berada di Atas

Ada dua kemungkinan ketika seseorang berada di atas. Pertama, dia bisa melihat apa saja yang ada di bawah atau dia takkan pernah memandang apa saja yang ada di bagian bawah dan hanya memilih ke depan; melihat pemandangan yang dari jauh begitu jelas dan indah bila dilihat dari atas.
foto: google.com

Mawar tiba-tiba menarik tanganku yang dingin di pagi itu, pagi yang dingin dan sunyi, di sekolah, karena jam pun baru menunjukkan pukul 6.15 tapi aku sudah ada di sana sejak 15 menit yang lalu. Ya, karena sekolahku hanya berjarak beberapa puluh meter dari rumah.

Aku pasti selalu jadi salah satu orang yang suka datang lebih awal termasuk Mawar, sahabatku yang lama-kelamaan mulai aku cintai. Aku tak pernah menduga, kalau hal konyol yang kukira hanya ada di sinetron-sinetron itu bisa terjadi padaku juga. Seseorang yang jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri karena terlalu dekat.

"Mau kemana?" tanyaku kepadanya saat ia menarik tanganku.
Ia lalu tersenyum begitu manis. "Sudahlah ikut saja."

Aku tak bisa menolak ajakannya. Dia adalah perempuan yang unik dan juga "cuek". Pernah suatu ketika, di Perpustakaan saat ramai orang, dia dengan cuek-nya makan siang di tempat itu yang sudah ia siapkan sebagai bekal dan uniknya lagi ia makan dengan menggunakan tangannya langsung tanpa sendok, garpu, apalagi sekop. Aku bertanya kepadanya: "Kamu tidak malu, War?". Lalu dia menjawab: "Untuk apa malu? Aku melakukan apa yang aku suka. Jika orang  tak suka, ya itu urusan orang."

Sebuah ketegasan yang luar biasa dari seorang perempuan menurutku. Di zaman sekarang, perempuan lebih suka meniru jadi orang lain, terlebih artis idolanya; menjadi putih seperti mereka, langsing, dan sebagainya ketimbang menjadi diri sendiri yang sesungguhnya. Mereka lebih suka bersandiwara dengan topeng yang menutupi muka asli mereka atau dengan tangan yang tembus pandang. Tidak seperti Mawar, yang manjalani hidup apa adanya. Tersenyum apa adanya dan mencinta apa adanya.

Aku masih dibawa olehnya. Entah malaikat kecil apa yang merasukinya hingga ia begitu bersemangat. Aku terus diajak menaiki tangga sekolah hingga berada di balkon.


Tuesday, January 10, 2012

Hari Rizka Yang Mengesankan

"Kadang tampang bisa menipu."
"Semua seakan memiliki benang merah."


Untuk Rizka Safitri (Mungkin dia adalah cinta pertama Si Penulis Cerpen Ini).





Foto: google.com


Pagi menjelang siang itu terasa begitu panas bagi Rizka, mahasiswi cantik yang sedang menanti bus yang akan membawanya pulang di sebuah halte. Tangannya sibuk mengotak-atik Handphone, membuka akun Facebook dan Twitter-nya seraya menghilangkan kejenuhan yang timbul karena terlalu lama menunggu.

Setelah beberapa menit, bus yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Ia pun menaruh kembali Handphone-nya ke dalam tas lalu berdiri mengawasi jalan dan mulai gelisah. Tanpa sepengetahuannya, sedari tadi seorang pria ternyata sudah memperhatikan gerak-geriknya dan kerapkali mengawasi keadaan sekitar dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Saat dirasa aman, pria itu mendekati Rizka dan secepat kilat merampas tasnya.. Spontan Rizka berteriak, "Jambret! Tolong! Jambret!."

Mendengar teriakan gadis manis yang berulang-ulang itu, beberapa pria langsung mengejar jambret itu dan Rizka pun ikut mengejar di belakang gerombolan pria yang sama-sama ingin menjadi seorang pahlawan.

Sementara itu, bagai seorang Pelari Nasional yang tengah memperebutkan medali emas, si jambret berlari dengan cepatnya meninggalkan orang-orang yang mengejar dan meneriakinya. Orang-orang di pinggir jalan itu hanya melihat tanpa ada yang berani menghentikkan langkah seribunya. Namun, saat asyik berlari tiba-tiba seoarng pengamen langsung menghantamkan gitarnya ke muka jambret yang brewokan itu, membuatnya terjungkal sekaligus menghentikan pelariannya. Pengamne itu pun langsung merebut tas dari tangan si jambret yang mukanya tengah kesakitan. Sialnya lagi, belum sempat bangun, orang-orang yang tadi mengejarnya langsung menghadiahi bogem mentah kepadanya. Sungguh malang. Tapi untungnya, tak sampai babak belur karena keburu dilerai oleh si pengamen. Atas saran pengamen pula, mereka sepakat untuk menyerahkan pelaku kriminal kelas teri itu ke pihak yang berwajib.

Saat itu pula, Rizka yang tadi ikut mengejar baru sampai dengan terengah-engah dan berdiri sedikit bungkuk dengan kedua tangan di pinggangnya.

"Ini tas kamu?," tanya sang pengamen.
"Iya, terima kasih ya," jawab Rizka masih agak terengah-engah dan meraih tasnya yang disodorkan pengamen itu.

Pengamen itu hanya tersenyum manis lalu berbalik badan dan mulai melangkah kaki untuk pergi meninggalkannya. Rizka hanya diam terpaku dan tampaknya dia begitu terkesan dengan senyuman itu. Hal itu sejenak membuatnya lupa untuk mengecek tasnya. Mungkin saja isinya sudah tak ada, pikirnya.

Setelah sadar, ia pun langsung mengecek isi tasnya. Untuk saja isinya masih utuh termasuk Handphone yang tadi ia simpan di tas tersebut. Tapi sebenarnya, bukan benda kotak yang menjadi nyawa kedua manusia saat ini itulah yang membuatnya khawatir, karena toh dia pasti bisa membelinya lagi bila hilang. Yang membuatnya khawatir adalah buku-bukunya yang berisikan banyak catatan penting berupa ilmu dan baginya ilmu tak bisa dibeli dengan uang meski pendidikan tentunya tak gratis 100%. Ditambah, dia malas untuk mencatat ulang bila catatan-catatan itu hilang.

Dia pun menarik nafas lega dan bersyukur karena isi tasnya masih utuh. Ia pun jadi teringat kembali oleh pengamen itu dan ingin menanyakan namanya. Tapi sayangnya, pengamen itu sudah hilang bersama siluetnya dan ia tak tahu kemana perginya. Akhirnya, ia memutuskan untuk kembali ke rencana awal yaitu pulang ke rumah.

                     ***

Wednesday, January 4, 2012

Mengejar Bikun, Mengejar Cinta

"Apa makna kebetulan menurutmu?" tanyaku kepada temanku, Nur. Dia diam sejenak seakan bertanya 'kenapa?'. "Aku membaca novel Dadaisme karya Dewi Sartika dan di novel ini, ia menyuguhkan banyak 'kebetulan' di dalamnya. Aku hanya ingin tahu makna kebetulan darimu?", tambahnya lagi. "Menurutku, kebetulan itu memang sesuatu yang tak terduga dan tak sengaja terjadi, tapi bukan berarti kebetulan tak bisa dicapai dengan sengaja kan?" dia balik bertanya dengan mata yang penuh cahaya seperti namanya. Aku tak bergeming karena ketidakpahaman. "Terkadang kebetulan juga harus dicapai agar kebetulan itu benar-benar terjadi, karena sesungguhnya Tuhan tahu, tak ada yang namanya kebetulan." tegasnya.

 Foto: Bikun (Bus Kuning) UI (kiri). Kedua-duanya diambil dari google.com dan diedit di pizap.com


Yah, dia memang jago sekali berfilsafat, maklum saja, dia adalah Mahasiswa Universitas Indonesia, Program Sudi Filsafat. Terkadang aku tak paham atau mungkin tak peduli dengan segala celoteh dan tetek-bengek yang ia jabarkan berdasarkan teori-teori para filsuf Yunani, Soccertes atau Pohon Tales -entahlah siapa namanya itu- yang sedikit aneh dan membingungkan.

Sedangkan aku, mahasiswa universitas yang sama, hanya saja aku dari Program Studi Sastra Indonesia, lebih menyukai berceloteh dalam puisi, cerpen, dan segala jenis sastra, terlebih dalam hal cinta. Hanya untuk mencurahkan jiwa melankolis yang -kata buku tes kepribadian- terdapat pada diriku. Kelebihanku yang lainnya adalah berkhayal, berangan-angan, membayangkan seorang wanita datang dengan cinta yang tulus dan rela berdiri di ambang pintu hanya untuk menunggu aku bangun dari tidurku dan bunganya yang tak harum.

"Bagaimana Nada-mu?" tanyaku padanya.
"Tak ada harapan. Dia makin menjauh, Fer. Tadi saja di kantin, kami hanya saling pandang tanpa bicara seperti lagunya Evo -nama sebuah grup band Indonesia-," jawabnya dengan nada cukup menyentuh.
"Kau sendiri bagaimana dengan Livia?" tanyanya balik.
"Kau tak ada harapan, aku tak ada kemajuan. Aku ini lelaki bukan sih? Mendekati perempuan saja, aku tak bisa. Aku malah berkhayal perempuan yang datang padaku. Ah, hidup memang terkadang kejam!" jawabku dengan sedikit lampiasan perasaan.

"Hidup tak kejam, kawan. Buat apa Tuhan menaruh kita di Bumi, bukan di planet-planet yang lain? Karena Dia tak kejam untuk memberikan kehidupan yang kejam, dia tak ingin kita berada di Merkurius untuk mati terbakar, Dia juga tak ingin kita ada di Saturnus untuk mati konyol tanpa adanya oksigen. Jadi, hidup tak kejam. Manusia-manusia tanpa syukurlah yang membuatnya menjadi kejam. Seharusnya kita bersyukur, kawan!" ujarnya dengan begitu bijak dan kharismatik.

"Kau memang benar. Kalau bicara soal Tuhan, rasanya aku ingin ia memberikan aku sebuah kebetulan untuk bertemu dengan Livia, entah itu di mana, dan bisa berbincang-bincang dengannya," lirihku pelan.
"Amin, Insya Allah, Dia akan mengabulkannya. Tapi, ingat, kau juga harus berusaha untuk mencapainya!"

                     ***

Horeeee! Aku Mendapatkan 7,7 Miliar!





Kata orang, yang namanya rezeki, jodoh, dan maut itu di tangan Tuhan. Terkadang kita tak pernah tahu kapan ketiganya hadir. Orang juga bilang hidup itu seperti roda. Kadang di atas, kadang di bawah. Tapi, apakah yang kini sudah di atas harus ketar-ketir karena suatu saat akan di bawah atau yang kini masih di bawah harus berbangga karena suatu saat akan di atas?

foto: google.com

Alkisah, di akhir tahun 2011, dua orang sahabat sedang bermain Kartu Uno, sebuah kartu dengan empat warna yang sangat seru dan masih banyak orang yang belum mengetahui soal kartu unik tersebut. Yang agak kurus dan berkulit cokelat tua bernama Farhan, sedangkan yang agak gemuk dan berkulit cokelat muda bernama Andi. Keduanya adalah seorang mahasiswa di sebuah universitas ternama di negeri yang tak kalah ternama soal korupsinya ini.

Tiba-tiba, Farhan yang sebenarnya sedang menginap di kamar Andi yang tinggal di asrama kampus mendapat sebuah SMS dari nomer: +44777000xxxx (untuk keamanan). Tak penting masalah nomernya tapi yang membuat ia dan Andi kaget adalah bunyi SMS-nya. Karena SMS-nya menggunakan bahasa Inggris dan rakyat negeri ini banyak yang belum menguasai bahasa internasional tersebut, jadi saya terjemahkan saja. Begini bunyinya:

"Selamat, nomor ponsel anda memenangkan 550.000,00 Pounds. Untuk mengklaimnya, silakan kirim nama dan nomor ponsel anda via email ke: blablabla@blablabla.com (untuk keamanan)."

"Menurut kamu, apa ini sungguhan?," tanya Farhan.
"Entahlah, tapi tidak ada salahnya juga kalau di kirim nama dan nomormu. Siapa tahu saja benaran?", jawab Andi.
"Tapi, jangan-jangan ini jebakan?", ketus Farhan lagi.
"Tenang saja. Kan cuma nama sama nomer HP, jadi takkan berbahaya menurutku." tegas Andi dengan nada meyakinkan.

                           ***

Wednesday, December 21, 2011

Sajak Untuk Rosa

Jingga makin memancar di sela-sela langit biru yang mulai gelap. Orang-orang menyebut waktu di saat langit setengah gelap sesudah matahari terbenam dan diikuti dengan munculnya langit jingga itu dengan sebutan senja. Begitu pula dengan gadis pecinta senja yang kebetulan bernama "Senja" juga. Entah kenapa kedua orang tuanya menamai anak pertamanya itu Senja. Mungkin karena mereka berdua juga pecinta senja di masa mudanya atau ada kenangan lain di waktu senja yang menginspirasi mereka untuk memberikan nama itu kepadanya.

Dia memang mencintai senja. Bukan karena keromantisan yang hadir di baliknya tapi karena dia memang tak punya alasan untuk mencintai senja. Sama seperti di saat ia mencintai seorang pria. Baginya, mencintai itu tak perlu alasan atau pertanyaan "mengapa" tapi mencintai bicara soal ketulusan dan hal-hal yang memang sulit untuk diungkapkan. Dia juga berpendapat kalau mencintai memiliki alasan maka cinta itu tak akan langgeng sampai kematian menjemput. Seperti halnya, kita yang mencintai seseorang karna wajahnya yang cantik dan ganteng maka setelah wajahnya tidak lagi cantik atau ganteng karna suatu hal, cinta itu akan hilang bersamaan dengan hilangnya kecantikan atau kegantengan yang dimiliki orang yang selama ini kau cintai. Itulah prinsip yang selalu ditanamkan dalam diri Senja, seorang perempuan sederhana nan cantik yang saat ini tengah sendiri.

Bukan karena dia pemilih dan terlalu mengkotak-kotakki pria yang mengantri di belakangnya. Tapi, karena dia memang belum merasakan cinta kepada pria-pria tampan laksana pangeran yang mencoba merajut kasih sayang dalam hatinya.

                          ***


Wednesday, December 14, 2011

Bu Puji

Malam itu, TV kesayanganku akhirnya kembali juga setelah kurang lebih 7 bulan mendekam di rumah mantan tetanggaku yang sangat baik kepadaku, Mas Aryo. Dua hari sebelumnya, beasiswaku cair. Tak penting masalah nominal. Tapi, uang yang sudah diberikan pemerintah itu kuambil untuk membayar kontrakanku yang sudah nunggak 3 bulan serta mengambil TV yang telah lama tergadai di tangan Mas Aryo. Aku begitu rindu dengan TV kesayanganku. Andai aku dulu tak mengontrak di kontrakan Bu Puji sialan itu, ini semua takkan terjadi.

Bulan Maret tahun 2011 adalah awal aku mengontrak di kontrakan Bu Puji. Aku mengontrak sendirian. Kenapa? Itu tak penting, yang jelas, sejak November tahun 2010, aku sudah tinggal sendirian. Ibu kandung di kampung halaman. Bapak dan ibu tiriku yang gila di sini, di kota ini juga. Aku tak mungkin tinggal bersama mereka, karena yang ada hanya masalah dan konflik, yang akhirnya berujung rasa malu. Malu kepada tetangga yang nyaris tiap hari disuguhi kegilaan-kegilaan yang dilakukan si ibu tiri gila itu.

Awalnya Bu Puji terlihat sangat baik. Dengan berstatuskan guru pengajian di RT setempat, ia dengan senyumnya yang palsu dan lidahnya yang bercabang dua membuatku terjebak di sana. Di kontrakan setan itu. Biaya sebulannya adalah 250 ribu. Itu belum sama biaya listrik.


Monday, December 12, 2011

Dompet Sialan

Seusai solat adalah waktu yang tepat untuk berdoa, khusunya bagi umat muslim yang rajin solat dan rajin berdoa. Tak terkecuali bagi Ahmad, remaja muslim yang rajin solat, yang kemarin hari, baru saja tertimpa musibah dengan kehilangan dompet yang isinya berupa uang 300 ribu dan KTP serta kartu kredit. Setelah solat subuh, dia hanya berdoa agar orang yang menemukan dompetnya segera mengembalikannya kepada dirinya karena dia dan Tuhan pun tahu, kalau dia sangat membutuhkan isi yang ada di dalam dompet itu.

                                      ***
Kemarin
Seorang pria yang nampaknya sedang krisis moneter berjalan dengan muka kusut di pinggir jalan yang ramai. Di sela lalu lalang kendaraan yang melintas dan terik matahari yang tak kunjung dingin, ia melihat sebuah dompet berwarna biru tua tergeletak tak bertuan di jalan. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Hatinya menjadi dilema. Entah mengapa, sama seperti di film-film, setan selalu menang saat membisikkan hal-hal buruk daripada malaikat yang mencegah hal-hal buruk. Akhirnya, ia pun mengambil dompet itu.

Ia dengan tergesa-gesa lalu mencari tempat sepi di ujung gang. Yakin sekeliling sudah aman, ia lalu melihat isi dompet itu. Dia mendapati uang 300 ribu dan KTP atas nama Ahmad Tarmiji. Kali ini, dia kembali diserang dilema. Harus mengembalikannya secara utuh, mengembalikannya dengan uang yang sudah di ambil terlebih dahulu, atau membuangnya saja setelah merampas uangnya. Dia yang bernama lengkap Yan Widi, karena merasa tak tega memilih opsi kedua. Dengan tenang ia beranjak pulang.

Di jalan, saat melewati gedung yang sedang direnovasi, tiba-tiba dari atas, sebuah cat berwarna biru menumpahi sebagian tubuhnya karena ia sempat menghindar, namun tetap saja baju dan rambutnya terkena noda cat. Tukang bangunan itu dari atas, kalau tidak salah lantai tiga, hanya berteriak maaf saja. Hal itu membuat dia geram, tapi ya sudahlah, dia tak ingin memperbesar masalah.


Wednesday, December 7, 2011

Imam Vs Makmum

"Allahu Akbar, Allahu Akbar.....", azan berkumandang di pagi buta yang masih lekat dengan gelap walau terang sudah mulai menghinggap langit meski kadang tak terlihat. Empat orang aneh bangun secara bersamaan seperti sudah janjian sebelumnya. Meski kantuk masih terasa dan badan belum 100% kembali, satu per satu dari mereka berdiri, mengambil sarungnya masing-masing dalam sebuah lemari kayu, lalu melangkah ke kamar mandi, tempat mereka mengambil air wudu.

Semalaman suntuk Agus, Rudi, dan Ozan menginap di kosan Cahyo, yang cukup sepi di kala malam walau malam itu malam minggu sekalipun. Mereka mengerjakan tugas kuliah bersama lalu bermain kartu remi hingga hawa dini memaksa mereka tidur. Baru 2,5 jam tidur, azan sudah membangunkan mereka dan seakan memaksa mereka bangun untuk menghadap Pencipta-Nya.

Selepas mengambil air wudhu, mereka lalu memulai solat berjamaah.
"Rud, imam?", ujar Cahyo.
"Jangan! Tuan rumah dulu lah", jawab Rudi.
Akhirnya, Cahyo menjadi imam di salat Subuh yang terdiri dari dua rakaat tersebut.

"Rapatkan shaf-nya", ujar Cahyo mengawali. Salat pun dimulai. Cahyo mengucapkan Takbiratul ihram yang diikiuti oleh ketiga makmumnya yang terlihat masih ngantuk dan tidak 100% semangat untuk salat.

Surah Al-Fathihah mulai dibacakan dengan suaranya yang lantang yang kemudian diikuti dengan surah lainnya yang begitu panjang, aku sendiri tak tahu surah apa yang ia bacakan. Namun, pembacaannya dengan dilagukan dan agak mendayu-dayu. Ketiga orang makmum tersebut, dalam hatinya, ternyata memiliki pendapat berbeda-beda, seperti sedang berdebat, namun di dalam hati, seperti di sinetron-sinetron.

"Apaan nih? Tambah ngantuk deh gue.", ujar Agus dalam hatinya.
"Imam yang kayak gini nih yang bagus, pembacaan surah-nya fasih dan sanat enak di dengar sambil dilagukan seperti itu.", isi hati Ozan.
"Memang sih, tapi ya tidak seperti itu juga. Salat subuh yang 2 rakaat yang seharusnya bisa kurang dari 5 menit saja bisa serasa satu jam bila seperti itu. Belum lagi, pembacaan surah lainnya. Untuk apa pula dia membaca surah pendek yang panjang-panjang? Mau pamer kah?", tanya Agus, masih dalam hati mereka masing-masing.
Rudi coba mengetengahkan, "Tajwid dan kefasihan itu memang penting namun tak harus dilagukan jika konteks kita sedang salat berjamaah bukan tadarus Al-Quran. Harusnya Imam berpikir, bisa saja, makmumnya punya urusan lain yang karena Imamnya lama memimpin solat, membuat dia jadi gondok. Satu hal yang ku tahu, dalam solat berjamaah, bila 51% makmumnya jengkel, salat itu seakan tak berarti."

Salat subuh pun berakhir dan mereka bersalam-salaman. Imam yang tak tahu menahu perbincangan dalam hati para makmun, tersenyum puas. Dia tak tahu. Mungkin takkan pernah tahu.

                                    ***


Sunday, December 4, 2011

Aku, Dian, HP dan PSP, dan Asrama UI

Latihan PK hari ini akhirnya selesai setelah kami berdoa dan berteriak "PK IKSI 2011 euh leuh!". Sekarang pukul 11 malam. Aku beserta temanku yang merupakan penghuni asrama UI (Universitas Indonesia) diantar oleh salah seorang senior kami ke asrama. Aku bukan penghuni asrama, hanya saja malam ini aku niatkan untuk kembali menginap di asrama UI, tepatnya di kamar temanku, Dian, yang terletak di gedung D2, lantai 3, nomer 17.

Ini bukan malam pertama aku menginap di sana. Sebelumnya, 3 hari yang lalu, aku juga menginap di sana selama 2 malam berturut-turut. Aku ingin merasakan adrenalin menginap di asrama UI yang katanya angker, tapi selama 2 malam itu, ternyata tak seperti yang dikatakan orang. Biasa saja.

Sesampainya di sana, aku dan Dian langsung bermain kartu meski kami sudah sama-sama lelah dan ngantuk karena latihan PK meski kami tidak satu jurusan tapi tetap satu fakultas, yaitu FIB (Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya). Aku jurusan Sastra Indonesia, sedangakan dia Filsafat.

Di tengah keseruan bermain kartu, karena pintu di buka lebar, aku melihat beberapa kali tetangga-tetangga Dian lewat di depan pintu dan salah satunya adalah Lukman, yang kata Dian berasal dari Surabaya dan merupakan mahasiswa FE (Fakultas Ekonomi).

Satu jam berlalu. Kantuk mulai meradang. Aku sudah tak kuat. Lalu aku putuskan untuk menyudahi permainan kartu yang sedang aku menangkan itu. Namun, Dian belum ingin tidur katanya. Dia malah meminjam PSP-ku lalu asyik bermain di atas tempat tidurnya. Sementara itu, sebelum tidur, aku menge-cas baterai HP-ku yang sudah lowbat dan kuletakkan di atas meja. Lalu aku pun tidur dengan bantal di lantai.

                          ***

Sunday, November 27, 2011

Pudarnya Sebuah Keadilan

Seorang pria dengan wajah cemas dan gerak tubuh yang gelisah sedang menunggui istrinya di ruang tunggu sebuah rumah sakit swasta di pinggiran Ibukota. Sudah setengah jam istrinya dirawat di rumah sakit yang sudah berdiri sejak 25 tahun yang lalu tersebut. Bangunan rumah sakit itu berdiri megah dan kokoh di pinggir jalan yang nyaris tak pernah lengang. Ribuan orang sudah mati di sana, begitu pula yang kembali sehat. Ya, dari dulu sampai sekarang, rumah sakit tak pernah berubah. Tempat di mana orang akan mati atau orang akan sembuh. Dengan perantara tangan Dokterlah, nasib mereka-mereka yang sakit dipertaruhkan.

Dia berharap istrinya yang sebenarnya sudah lama sakit itu cepat sembuh. Nampak dari raut mukanya yang memelas, sebuah penyesalan yang tak diragukan lagi adanya.

Satu minggu yang lalu, istrinya mendadak sakit. Badannya panas dan suka muntah-muntah. Sebagai seorang suami, dia sudah sangat sigap menjaga istrinya yang sakit dan membelikannya obat tanpa membawanya ke rumah sakit karena sadar akan biaya yang pastinya tak mampu ia sanggupi yang hanya bekerja sebagai montir sebuah bengkel. Ia hanya mendoakan istrinya agar cepat sembuh. Namun, Tuhan belum berpihak kepadanya, doanya justru dibalas dengan apa yang tak diinginkannya. Sakit istrinya malah tambah parah. Namun dia bingung, harus dibawa kemana istrinya?

Tetangganya yang merasa kasihan memberi saran agar istrinya dibawa ke rumah sakit.
"Sudah Pak Bagio, bawa saja ke rumah sakit. Kasihan istrimu. Sebelum terlambat!", begitulah yang diucapkan Marni, tetangga terdekatnya.
"Biayanya? Saya tak punya uang untuk biaya rumah sakit."
"Ah Bapak, seperti di sinetron saja, sekarang Bapak bawa dulu saja istri Bapak, masalah biaya saya rasa pihak rumah sakit bisa mentolerin."

Mendengar penjelasan Marni yang sedikit menyejukkan hati itu, akhirnya ia memutuskan membawa istrinya ke rumah sakit itu dengan sepeda motornya.

                                  ***

Sunday, November 20, 2011

3D

Jika Bung Karno pada tahun 40-an atau 50-an pernah berkata: "Beri aku satu orang pemuda, maka akan kuguncangkan dunia!", dia, temanku, juga pernah berkata: "Beri aku satu orang wanita, maka akan kucetak 1000 gol!"

Perkataan itu dia ucapkan saat kami sedang di lapangan futsal, pastinya hendak bermain futsal. Mungkin jika tidak di lapangan futsal, kata-kata itu bisa bermakna lain, tapi bukan tak mungkin kalau itu memang mengarah ke situ. Tapi, sudahlah, lupakan saja.


Thursday, November 10, 2011

Boogle City

Dia dilahirkan di kota ini dua puluh tiga tahun yang lalu. Kota yang dahulu sampai sekarang penuh dengan pepohonan rimbun yang mengelilinginya, bagai sebuah kota di tengah hutan. Terdapat sebuah sungai yang membelah kota ini. Sungai yang begitu panjang, bersih, tanpa limbah pabrik. Tak seperti sungai-sungai yang ada di kota-kota besar yang keruh dan penuh sampah. Dahulu waktu ia masih kecil, ia sering sekali mandi di sungai tersebut tanpa rasa gatal ataupun koreng di kaki. Bahkan sampai sekarang, sungai itu tak pernah membawa penyakit untuk warga. Tak pernah ada bencana yang terjadi. Tak ada banjir begitupun tanah longsor. Warganya hidup tentram walau dalam ketertinggalan zaman.

Kini, ia kembali ke kota ini dengan sebuah rencana. Rencana yang ia anggap sangat baik untuk mengembangkan bisnisnya. Misinya adalah memajukan kota ini dan mensejahterakan penduduk kota ini. Kota ini bernama Bugel. Kota kecil yang besar jiwanya. Inilah kotaku. Tempat dimana aku lahir. Kotanya juga. Kami adalah kawan masa kecil, jauh sebelum ia kembali ke sini dari kota besar yang jiwanya kecil itu.

Kami selalu bersama-sama. Main bersama, makan bersama, kadang juga mandi bersama. Tapi lagi-lagi, itu dulu, sebelum dia bersama keluarganya pindah ke sana. Saat terakhir kali kami bertemu, aku memeluknya. Kami terbawa dalam suasana haru dalam pelukan itu seperti yang dilakukan orang dewasa di sinetron ataupun di dunia nyata, padahal saat itu kami masih berumur 9 tahun.


Monday, November 7, 2011

Kedok Magic

Aku bukan Tuhan Yang Maha Bijaksana. Aku hanya manusia awam yang tak mengerti tentang surga dan neraka. Aku tak bisa memutuskan akan kemana dia nanti. Surga atau neraka? Aku tak tahu, sungguh tak tahu, dan takkan pernah tahu. Aku hanya ingin mengambil pelajaran. Dari apa yang terjadi hari itu. Bukan tentang aku, tapi tentang dia yang raganya ada di sana tapi aku tak tahu jiwanya kini ada dimana.

Pukul 07.00 WIB, Yayasan Yatim Piatu.
Dia berjalan dengan tegap, bajunya rapi, dan senyum yang ramah kepada penghuni yayasan. Dia disenangi oleh anak-anak di sana. Setiap kali dia datang, tampak raut muka gembira anak-anak yang masih polos dan lugu menghiasi suasana yayasan. Dia dikenal sebagai orang yang dermawan bagi semua penghuni yayasan termasuk pendiri yayasan karena dialah donatur tetap yayasan yang sudah berdiri sejak masa orde baru itu. Setiap bulan, gelontoran uang bernominal puluhan juta pasti didonasikan untuk yayasan. Sungguh perbuatan yang mulia. Sulit menemukan orang yang masih peduli dengan anak-anak yatim piatu di zaman seperti ini.

Pukul 11.00 WIB, Margo City.
"Jadi aku harus bagaimana agar ini bisa terselesaikan, kawan?", ujar seorang pria kepadanya.
"Gampang, asalkan ada uang, masalah tuntas", ujarnya.
"Kau yakin?", tanya temannya lagi kepadanya.
"Ya, semua bisa di atur, aku akan menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisinya dan kita akan berpesta malam ini!", tegasnya dengan senyum meyakinkan.


Wednesday, November 2, 2011

Setia Tak Setia

Warnet adalah tempat yang tepat bagiku di hari itu untuk mendinginkan hati yang saat itu begitu panas. Bukan karena ruangannya yang ber-AC tapi dari situlah aku bisa mencurahkan panas hatiku kepada dunia. Panas yang kualami bukan hanya sekedar panas akibat surya bara neraka yang menyentuh kulit tapi lebih dari itu. Siang di hari itu yang begitu panas mendadak mendung di sore hari, di saat aku sudah berada di depan layar komputer. Menuangkan perasaan marahku di facebook dan juga twitter.

Tapi, kenapa aku marah dan kenapa hatiku begitu panas? Mungkin kamu ingin tahu atau mungkin kamu tak peduli, lalu pergi begitu saja. Percayalah, aku juga tak peduli. Aku hanya ingin menceritakan apa yang kurasakan. Rasanya sakit hati, rasanya dikhianati, rasanya diselingkuhi, dan semuanya. Aku akan mengenalkan siapa diriku dan mulai mengisahkan kisah pedih yang mungkin pernah kamu alami juga ini, tak peduli kamu ingin mengetahuinya atau tidak. Sekarang, pilihan ada di tanganmu.