Minggu, 12 Februari 2012, kecelakaan maut kembali terjadi. Kali ini dialami sebuah bus yang berisikan 33 orang penumpang di Cimanggis, Depok. Kecelakaan diduga karena kelalaian sopir yang mengantuk saat mengendarai bus sehingga bus tergelincir masuk ke dalam Sunga Ciliwung. Kecelakaan ini pun menewaskan 23 orang termasuk sopir dan sisanya mengalami luka berat. Semua korban baik yang meninggal atau mengalami luka berat kini berada di RS Sentra Medika, Cimanggis, Depok.
-Depok Post Edisi 12 Februari 2012-
foto: google.com
Sebuah Tempat Wisata, Sehari Sebelum 12 Februari 2012
Tujuh orang yang satu sama lainnya benar-benar berbeda namun satu dan menamai diri mereka "PIONEERS" sedang mengisi masa-masa liburan kuliah mereka sebelum dua hari setelahnya harus berjibaku kembali dengan buku-buku dan ilmu-ilmu ala perkuliahan. Kelompok kecil alias geng yang cukup kompak ini terdiri dari tiga cewek dan empat cowok. Sudah setahun lebih mereka mendirikan geng ini dan tak pernah tercerai berai. Setidaknya sampai hari itu.
Mereka bertujuh adalah:
1. Andina. Cewek yang satu ini, satu-satunya yang berjilbab di antara ketiga cewek lainnya didalam geng. Orangnya sangat supel dan enak buat dijadiin tempat curhat.
2. Rachel. Cewek yang super modis dan sangat glamor. Oh ya ada satu lagi yang terlewat, dia juga seksi.
3. Herlambang. Bisa dikatakan dialah orang yang pertama kali memprakarsai berdirinya kelompok ini.
4. Anwar. Namun, meski Herlambang yang memprakasainya, namun Anwar lah yang akhirnya menjadi pemimpin dan dia pulalah yang paling menonjol di dalam Pioneers.
5. Maya. Kata Pioneers yang akhirnya menjadi nama kelompok mereka adalah idenya. Pioneers merupakan kata dalam bahasa inggris yang artinya pionir-pionir, yang dengan harapan, 7 orang dalam kelompok ini bisa menjadi seorang pionir atau perintis atau pelopor terhadap kejayaan di masa depan. Begitulah ungkapnya.
6. Sebastian. Hobinya membaca buku. Walau pendiam, namun dapat diakui kalau dialah yang terpandai dari kesemuanya.
7. Taufan. Orangnya sangat ramai dan humoris. Dia adalah orang yang paling dinanti-nanti karena lelucon dan banyolannya yang suka membuat gelak tawa anggota lainnya.
Malam makin larut saat itu dan dingin makin tak terasa karena api unggun yang menyala seakan menjadi obat penawar yang mujarab di tengah dingin hembus nafas malam. Di samping itu, petikan gitar dan lantunan lagu yang mereka nyanyikan bersama juga mampu membuat mereka lupa akan dingin malam dan rasa kantuk.
Saat sudah mulai capek dan ngantuk, mereka akhirnya memutuskan untuk tidur sebelum kembali ke Jakarta, besok pagi. Sebelum tidur, mereka tos bersama dan juga berdoa yang dipimpin oleh Anwar.
"Datang ke sini bersama-sama, Senang-senang bersama-sama, dan pulang pun juga harus bersama-sama. Kita akan terus bersama. Untuk selamanya. Go Pionerrrssss..."
***
Showing posts with label Mirror. Show all posts
Showing posts with label Mirror. Show all posts
Saturday, February 11, 2012
Tuesday, January 17, 2012
Aku dan Kisah Horror di UI
Sebelumnya, aku tak pernah mempercayai hantu ataupun sejenisnya. Mungkin sekedar tahu dan tak sungguh-sungguh percaya kalau mereka memang ada. Buatku, yang hidup di zaman serba canggih ini, hantu adalah tokoh fiksi yang semu bagai sebuah omong kosong yang tak berdalih.
foto: google.com
Banyak sekali kisah horror yang pernah mampir di telingaku, khususnya di kampusku tercinta ini, Universitas Indonesia, yang dikisahkan teman-temanku. Dimulai dari hantu kuntilanak merah, hantu di Fakultas Teknik yang selalu muncul setiap tahunnya di acara wisuda, arwah perempuan yang gantung diri di kantor Rektorat, sampai Arwah gadis penghuni Gerbatama.
Sebagai seorang teman dan pendengar yang baik, aku memang mendengarkan kisah-kisah itu dan mencernanya dengan baik namun itu hanya bagai angin lalu untukku, yang masuk lewat telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri ataupun sebaliknya.
Hingga suatu malam, tiga kejadian aneh dalam satu malam benar-benar mengubah pemikiranku tentang hantu dan sejak itu, aku "meneliti" banyak hal tentang mereka; mengapa mereka ada dan untuk apa? apa mereka memang suka menggangu manusia atau justru manusia yang membuatnya merasa terganggu. Bahkan, aku pernah mencoba mendaftarkan diri untuk mengikuti uji nyali di salah satu acara televisi yang cukup ternama hanya untuk sekedar mengetahui tentang mereka.
***
Malam itu, aku lupa tanggal berapa, tapi aku ingat harinya. Ya. Hari Kamis malam Jum'at. Entah Jum'at Kliwon ataupun bukan, tapi yang pasti malam Jum'at kala itu benar-benar mencekam aku dan temanku, Nusa.
Saat itu, di kampus, tengah ada konser musik yang diadakan FIB (Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya) dan dimeriahkan oleh beberapa band kampus dan guest star-nya adalah salah satu band yang sangat tenar dan telah malang-melintang di penjuru Indonesia, sebut saja Jigsaw Band.
Konser selesai pukul 10 Malam. Temanku, Nusa, yang berasal dari kampung dan sedikit kampungan, dengan narsis-nya minta difotoin oleh aku dengan Handphone-ku. Dalam pikiranku: "Aduh, ini temanku sudah narisi, tidak modal pula."
Tapi, entah mengapa, seakan tertular oleh virus narsis yang begitu kuat, aku juga tak mau hanya memenuhi album fotoku dengan foto orang lain tanpa ada foto akunya. Alhasil, akupun ikut ber-narsis-narsis-ria.
Usai berfoto, kami bergegas pulang dan entah ini sebuah kebetulan atau ada "sesuatu" yang membuat kami berfikiran hal yang sama yaitu pulang ke asrama berjalan kaki. Bukan karena kami tak punya uang untuk naik angkot, tapi aku ingin sekedar menguji nyali dan untuk si Nusa, dia memang hobi berjalan kaki. Katanya, dulu waktu sekolah, dia harus berjalan kaki menaiki tangga bukit dan menyeberangi sungai untuk sampai sekolah di kampungnya yang dari rumah kira-kira berjarak 7 Kilometer. Hah, benar-benar orang pedalaman, namun dia cukup jenius, setidaknya satu level di bawahku. Jika dia Expert, aku Master-nya (level dalam beberapa game).
Akhirnya, dengan tekad yang mantap, kami mulai berjalan kaki. Menyusuri gelap jalan yang lengang dan kegelapan hutan yang seakan mengiringi setiap langkah kami. Malam itu sudah pukul 11. Mungkin lewat.
***
foto: google.com
Banyak sekali kisah horror yang pernah mampir di telingaku, khususnya di kampusku tercinta ini, Universitas Indonesia, yang dikisahkan teman-temanku. Dimulai dari hantu kuntilanak merah, hantu di Fakultas Teknik yang selalu muncul setiap tahunnya di acara wisuda, arwah perempuan yang gantung diri di kantor Rektorat, sampai Arwah gadis penghuni Gerbatama.
Sebagai seorang teman dan pendengar yang baik, aku memang mendengarkan kisah-kisah itu dan mencernanya dengan baik namun itu hanya bagai angin lalu untukku, yang masuk lewat telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri ataupun sebaliknya.
Hingga suatu malam, tiga kejadian aneh dalam satu malam benar-benar mengubah pemikiranku tentang hantu dan sejak itu, aku "meneliti" banyak hal tentang mereka; mengapa mereka ada dan untuk apa? apa mereka memang suka menggangu manusia atau justru manusia yang membuatnya merasa terganggu. Bahkan, aku pernah mencoba mendaftarkan diri untuk mengikuti uji nyali di salah satu acara televisi yang cukup ternama hanya untuk sekedar mengetahui tentang mereka.
***
Malam itu, aku lupa tanggal berapa, tapi aku ingat harinya. Ya. Hari Kamis malam Jum'at. Entah Jum'at Kliwon ataupun bukan, tapi yang pasti malam Jum'at kala itu benar-benar mencekam aku dan temanku, Nusa.
Saat itu, di kampus, tengah ada konser musik yang diadakan FIB (Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya) dan dimeriahkan oleh beberapa band kampus dan guest star-nya adalah salah satu band yang sangat tenar dan telah malang-melintang di penjuru Indonesia, sebut saja Jigsaw Band.
Konser selesai pukul 10 Malam. Temanku, Nusa, yang berasal dari kampung dan sedikit kampungan, dengan narsis-nya minta difotoin oleh aku dengan Handphone-ku. Dalam pikiranku: "Aduh, ini temanku sudah narisi, tidak modal pula."
Tapi, entah mengapa, seakan tertular oleh virus narsis yang begitu kuat, aku juga tak mau hanya memenuhi album fotoku dengan foto orang lain tanpa ada foto akunya. Alhasil, akupun ikut ber-narsis-narsis-ria.
Usai berfoto, kami bergegas pulang dan entah ini sebuah kebetulan atau ada "sesuatu" yang membuat kami berfikiran hal yang sama yaitu pulang ke asrama berjalan kaki. Bukan karena kami tak punya uang untuk naik angkot, tapi aku ingin sekedar menguji nyali dan untuk si Nusa, dia memang hobi berjalan kaki. Katanya, dulu waktu sekolah, dia harus berjalan kaki menaiki tangga bukit dan menyeberangi sungai untuk sampai sekolah di kampungnya yang dari rumah kira-kira berjarak 7 Kilometer. Hah, benar-benar orang pedalaman, namun dia cukup jenius, setidaknya satu level di bawahku. Jika dia Expert, aku Master-nya (level dalam beberapa game).
Akhirnya, dengan tekad yang mantap, kami mulai berjalan kaki. Menyusuri gelap jalan yang lengang dan kegelapan hutan yang seakan mengiringi setiap langkah kami. Malam itu sudah pukul 11. Mungkin lewat.
***
Monday, December 26, 2011
Perempuan Pecinta Burung
Foto: google.com
Seorang pria dengan mengenderai mobil BMW-nya, ditemani pasangannya, seorang perempuan cantik yang usianya 23 tahun atau 15 tahun lebih muda dari usia pria itu sendiri. Malam makin gelap, lampu mobil menjadi penerang di sisa perjalanan mereka.
"Sebentar lagi sampai, mas," ujar si perempuan dengan suaranya yang lembut.
"Oh ya?", jawab si pria sambil sesekali melirik ke arah paha si perempuan yang begitu mulus karna si perempuan sendiri mengenakan rok mini yang nyaris kelihatan celana dalamnya. Benar-benar sangat menggoda dan menggairahkan. Ia ingin cepat-cepat sampai di rumah perempuan itu.
Tiga menit berselang, mobil BMW hitam yang mengkilat di tengah malam yang mendera itu berhenti di sebuah rumah yang cukup besar dengan pagar yang tingginya mungkin tiga kali tinggi manusia normal.
Seorang pria dengan mengenderai mobil BMW-nya, ditemani pasangannya, seorang perempuan cantik yang usianya 23 tahun atau 15 tahun lebih muda dari usia pria itu sendiri. Malam makin gelap, lampu mobil menjadi penerang di sisa perjalanan mereka.
"Sebentar lagi sampai, mas," ujar si perempuan dengan suaranya yang lembut.
"Oh ya?", jawab si pria sambil sesekali melirik ke arah paha si perempuan yang begitu mulus karna si perempuan sendiri mengenakan rok mini yang nyaris kelihatan celana dalamnya. Benar-benar sangat menggoda dan menggairahkan. Ia ingin cepat-cepat sampai di rumah perempuan itu.
Tiga menit berselang, mobil BMW hitam yang mengkilat di tengah malam yang mendera itu berhenti di sebuah rumah yang cukup besar dengan pagar yang tingginya mungkin tiga kali tinggi manusia normal.
Monday, December 19, 2011
Hantu Dunia Maya
Seperti biasa, sore ini, sepulang kuliah, aku langsung menghadap layar komputerku yang terletak di dalam kamarku yang berdinding ungu dan berhiaskan pernak-pernik yang kukumpulkan dari berbagai belahan dunia.
Dari facebook, twitter, sampai blogger aku babat habis. Kalau sudah begitu, aku bisa menghabiskan waktu sampai 5 jam, bahkan kadang lebih. Aku semakin gila berinternet di dunia maya setelah sebulan yang lalu men-jomblo. Hanya dunia maya-lah yang bisa menemaniku dalam kesepian.
Begitu pula dengan Krisna, seorang pria yang kukenal dari facebook satu minggu yang lalu. Entah kenapa, walau hanya kenal dari facebook aku sudah seperti berada di dekatnya dan terasa nyaman. Orangnya asyik jika sedang chatting-an ataupun berbalas wall post. Dia mengaku juga tinggal di kota yang sama, Depok, bahkan juga berkuliah di tempat di mana aku berkuliah meski berbeda fakultas, Universitas Indonesia. Namun, anehnya dia tak ingin bertukaran nomer Handphone denganku meski aku sudah membujuk. Ia bilang, ia tak punya Handphone. Tapi, masa iya zaman sekarang masih ada orang yang tak megang benda multifungsi itu?
Tapi aku tak ingin terlalu mempermasalahkannya. Aku pun lalu mengajak ia ketemuan. Ia menyepakati.
Lalu sesuai kesepakatan, kami bertemu siang ini di Jembatan Teksas, jembatan penghubung Fakultas Teknik dan Fakultas Sastra (Sekarang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya).
Siang makin terik. Namun, ia tak kunjung datang. Karena kesal, aku bertanya kepada orang yang kebetulan sedang lewat.
"Maaf Mbak, mau tanya sebentar, kenal Krisna tidak? Anak FIB jurusan Sastra Indonesia?", tanyaku.
"Krisna anak Sastra Indonesia?", tanyanya balik dengan muka heran.
"Iya, kami janji ketemuan hari ini. Memangnya kenapa Mbak? Kenal?"
"Iya, saya kenal, bahkan namanya jadi sangat terkenal dua minggu yang lalu. Tapi, tidak mungkin kalau dia mengajak ketemuan kamu. Pasti kamu salah orang!"
"Maksudnya? Salah bagaimana?"
"Ya jelas saja salah. Krisna sudah meninggal. Terjun dari jembatan ini di malam hari sekitar dua minggu yang lalu setelah diputus pacarnya dan mati tenggelam."
Aku langsung syok mendengar jawaban itu. Tapi, mana mungkin hantu bisa bermain di dunia maya? Mungkin saja itu orang iseng yang sengaja memakai akun Alm. Krisna untuk menakut-nakutiku atau membuat sensasi. Aku langsung kembali ke kampusku, Fakultas Ekonomi untuk bergegas pulang dengan mobilku yang kuparkir di sana.
***
Dari facebook, twitter, sampai blogger aku babat habis. Kalau sudah begitu, aku bisa menghabiskan waktu sampai 5 jam, bahkan kadang lebih. Aku semakin gila berinternet di dunia maya setelah sebulan yang lalu men-jomblo. Hanya dunia maya-lah yang bisa menemaniku dalam kesepian.
Begitu pula dengan Krisna, seorang pria yang kukenal dari facebook satu minggu yang lalu. Entah kenapa, walau hanya kenal dari facebook aku sudah seperti berada di dekatnya dan terasa nyaman. Orangnya asyik jika sedang chatting-an ataupun berbalas wall post. Dia mengaku juga tinggal di kota yang sama, Depok, bahkan juga berkuliah di tempat di mana aku berkuliah meski berbeda fakultas, Universitas Indonesia. Namun, anehnya dia tak ingin bertukaran nomer Handphone denganku meski aku sudah membujuk. Ia bilang, ia tak punya Handphone. Tapi, masa iya zaman sekarang masih ada orang yang tak megang benda multifungsi itu?
Tapi aku tak ingin terlalu mempermasalahkannya. Aku pun lalu mengajak ia ketemuan. Ia menyepakati.
Lalu sesuai kesepakatan, kami bertemu siang ini di Jembatan Teksas, jembatan penghubung Fakultas Teknik dan Fakultas Sastra (Sekarang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya).
Siang makin terik. Namun, ia tak kunjung datang. Karena kesal, aku bertanya kepada orang yang kebetulan sedang lewat.
"Maaf Mbak, mau tanya sebentar, kenal Krisna tidak? Anak FIB jurusan Sastra Indonesia?", tanyaku.
"Krisna anak Sastra Indonesia?", tanyanya balik dengan muka heran.
"Iya, kami janji ketemuan hari ini. Memangnya kenapa Mbak? Kenal?"
"Iya, saya kenal, bahkan namanya jadi sangat terkenal dua minggu yang lalu. Tapi, tidak mungkin kalau dia mengajak ketemuan kamu. Pasti kamu salah orang!"
"Maksudnya? Salah bagaimana?"
"Ya jelas saja salah. Krisna sudah meninggal. Terjun dari jembatan ini di malam hari sekitar dua minggu yang lalu setelah diputus pacarnya dan mati tenggelam."
Aku langsung syok mendengar jawaban itu. Tapi, mana mungkin hantu bisa bermain di dunia maya? Mungkin saja itu orang iseng yang sengaja memakai akun Alm. Krisna untuk menakut-nakutiku atau membuat sensasi. Aku langsung kembali ke kampusku, Fakultas Ekonomi untuk bergegas pulang dengan mobilku yang kuparkir di sana.
***
Subscribe to:
Posts (Atom)



