foto: google.com
(I)
Hengkang jauh, tinggalkan Tanah Ibu Pertiwi
Mengejar bayangan abu-abu
Berharap memangku bulan di negeri orang
Namun, harapan itu menjadi harap
Perih getir adalah keseharian
Was-was dalam ketakutan
Rindu sanak saudara tak terobati
Kau bagai ladang bagi mereka
Kucuran keringatmu laksana mutiara untuk mereka
Kau upeti bagi penguasa
Senantiasa
Tetesan air matamu tak sebanding
dengan nama besarmu,
Pahlawan Devisa.
(II)
Bertahun sudah
Jasadmu kembali di Tanah Ibu Pertiwi
Tidak dengan roh-mu, yang entah kemana
Dirampas oleh oknum gila!
Jasadmu tanpa noda darah, setetespun
Senyum tak kentara
Wangi tak tercium
M. Fathir Al Anfal (Maret 2012)
Alhamdulilah, puisi ini masuk 100 besar lomba puisi TKI yang diadakan Umahaju Publisher bulan Maret lalu. Info selengkapnya:
http://umahaju.blogspot.com/2012/04/100-besar-lomba-puisi-tki.html#more
Showing posts with label Puisi Dibukukan. Show all posts
Showing posts with label Puisi Dibukukan. Show all posts
Friday, April 6, 2012
Thursday, March 8, 2012
Untuk Bulan Yang Pudar
Blap!
Kau tiba-tiba malu
Cahayamu pudar tertutup awan
Bagai titik-titik abu-abu dalam bayang
Mencoba mengabarkanku akan datangnya pagi
Dan apakah pagi itu bisa membuat seseorang bahagia?
Aku tak tahu
Tanyakan pada matahari!
Karena aku sendiri tak pernah melihat pagi
Foto: google.com
M. Fathir Al Anfal (Maret 2012)
Sudah diterbitkan dalam Majalah Gaung Sastra Indonesia FIB UI edisi Maret 2012.
Sudah diterbitkan dalam Majalah Gaung Sastra Indonesia FIB UI edisi Maret 2012.
Subscribe to:
Posts (Atom)

