Tuesday, January 10, 2012

Untuk Hari Esok, Dirinya, dan Cinta


Foto: ketiganya diambil dari Google.com dan diedit di Pizap.com.

Risau merayap, menghinggapi angan yang terbengkalai.
Mendesah gumam dalam rintik hujan yang mendayu,
membawa sesosok bayang berkelebat memutariku,

Dingin,

Hitam,

Namun indah, begitu indah.

Aku terperanjat, menyaksikkan galau menyiksa diri.
Memperkosaku dalam lengang, memintal rindu.

Cakrawala menyibak senja, membangunkan diri dalam rangkaian keputus-asaan
dan rangkakan lenguh.
Maka disinilah aku sendiri sekarang menatap cakrawala, dan menitipkan sebuah doa yang penuh harapan untuk hari esok…

Ya, untuk hari esok, untuk dirinya, untuk cinta.

Muhammad Fathir Al Anfal, Peserta Ramen Nomer 106.
Baca ya di link di bawah ini:


Hari Rizka Yang Mengesankan

"Kadang tampang bisa menipu."
"Semua seakan memiliki benang merah."


Untuk Rizka Safitri (Mungkin dia adalah cinta pertama Si Penulis Cerpen Ini).





Foto: google.com


Pagi menjelang siang itu terasa begitu panas bagi Rizka, mahasiswi cantik yang sedang menanti bus yang akan membawanya pulang di sebuah halte. Tangannya sibuk mengotak-atik Handphone, membuka akun Facebook dan Twitter-nya seraya menghilangkan kejenuhan yang timbul karena terlalu lama menunggu.

Setelah beberapa menit, bus yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Ia pun menaruh kembali Handphone-nya ke dalam tas lalu berdiri mengawasi jalan dan mulai gelisah. Tanpa sepengetahuannya, sedari tadi seorang pria ternyata sudah memperhatikan gerak-geriknya dan kerapkali mengawasi keadaan sekitar dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Saat dirasa aman, pria itu mendekati Rizka dan secepat kilat merampas tasnya.. Spontan Rizka berteriak, "Jambret! Tolong! Jambret!."

Mendengar teriakan gadis manis yang berulang-ulang itu, beberapa pria langsung mengejar jambret itu dan Rizka pun ikut mengejar di belakang gerombolan pria yang sama-sama ingin menjadi seorang pahlawan.

Sementara itu, bagai seorang Pelari Nasional yang tengah memperebutkan medali emas, si jambret berlari dengan cepatnya meninggalkan orang-orang yang mengejar dan meneriakinya. Orang-orang di pinggir jalan itu hanya melihat tanpa ada yang berani menghentikkan langkah seribunya. Namun, saat asyik berlari tiba-tiba seoarng pengamen langsung menghantamkan gitarnya ke muka jambret yang brewokan itu, membuatnya terjungkal sekaligus menghentikan pelariannya. Pengamne itu pun langsung merebut tas dari tangan si jambret yang mukanya tengah kesakitan. Sialnya lagi, belum sempat bangun, orang-orang yang tadi mengejarnya langsung menghadiahi bogem mentah kepadanya. Sungguh malang. Tapi untungnya, tak sampai babak belur karena keburu dilerai oleh si pengamen. Atas saran pengamen pula, mereka sepakat untuk menyerahkan pelaku kriminal kelas teri itu ke pihak yang berwajib.

Saat itu pula, Rizka yang tadi ikut mengejar baru sampai dengan terengah-engah dan berdiri sedikit bungkuk dengan kedua tangan di pinggangnya.

"Ini tas kamu?," tanya sang pengamen.
"Iya, terima kasih ya," jawab Rizka masih agak terengah-engah dan meraih tasnya yang disodorkan pengamen itu.

Pengamen itu hanya tersenyum manis lalu berbalik badan dan mulai melangkah kaki untuk pergi meninggalkannya. Rizka hanya diam terpaku dan tampaknya dia begitu terkesan dengan senyuman itu. Hal itu sejenak membuatnya lupa untuk mengecek tasnya. Mungkin saja isinya sudah tak ada, pikirnya.

Setelah sadar, ia pun langsung mengecek isi tasnya. Untuk saja isinya masih utuh termasuk Handphone yang tadi ia simpan di tas tersebut. Tapi sebenarnya, bukan benda kotak yang menjadi nyawa kedua manusia saat ini itulah yang membuatnya khawatir, karena toh dia pasti bisa membelinya lagi bila hilang. Yang membuatnya khawatir adalah buku-bukunya yang berisikan banyak catatan penting berupa ilmu dan baginya ilmu tak bisa dibeli dengan uang meski pendidikan tentunya tak gratis 100%. Ditambah, dia malas untuk mencatat ulang bila catatan-catatan itu hilang.

Dia pun menarik nafas lega dan bersyukur karena isi tasnya masih utuh. Ia pun jadi teringat kembali oleh pengamen itu dan ingin menanyakan namanya. Tapi sayangnya, pengamen itu sudah hilang bersama siluetnya dan ia tak tahu kemana perginya. Akhirnya, ia memutuskan untuk kembali ke rencana awal yaitu pulang ke rumah.

                     ***

Sunday, January 8, 2012

Sendal Ini Untuk Pak Hukum


foto: google.com

Pada suatu masa, seorang pemuda berumur belasan tahun, dengan langkah yang berderap mantap,
datang ke sebuah rumah di Jalan Satu Nomor Tiga.

Ia membawa sebuah kado berbungkus kertas lusuh bergambar Burung Derabat* untuk Pak Hukum yang hari ini berulang tahun yang ke-66.

Pak Hukum makin renta. Makin buta warna. Hitam dibilang putih, putih dibilang hitam.
Makin tak bisa berbuat apa-apa. Makin bungkuk. Ditambah sakit-sakitan pula.
Otaknya mengalami Demensia**. Tikus dibilang Anjing. Anjing dibilang Kucing.
Borok-borok pun menyebar di sekujur tubuhnya. Benar-benar memprihatinkan.

Pemuda itu membuka kado yang berisikan sepasang sendal bermerk Swallow di depan mata Pak Hukum yang merem-melek.

"Sendal ini untuk Bapak." ujar si Pemuda.
"Untuk apa sendal itu, Nak?" tanya Pak Hukum.
"Untuk Bapak agar bisa terus berjalan di jalan yang penuh Beling."
"Oh, saya kira buat ditamparkan di muka saya."

Ket:
* Diangkat dari tokoh fiksi cerpen Derabat karya Budi Darma dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas 1999. Derabat dalam cerpen Budi Darma tersebut digambarkan sebagai burung yang sangat besar, sangat hitam, dan sangat jahat serta suka mencelakakan siapapun.
** Demensia adalah salah satu penyakit pada otak, di mana orang yang mengalaminya tak mampu memformulasikan ide (benda).

M. Fathir Al Anfal (2012)