"Kadang tampang bisa menipu."
"Semua seakan memiliki benang merah."
Untuk Rizka Safitri (Mungkin dia adalah cinta pertama Si Penulis Cerpen Ini).
Foto: google.com
Pagi menjelang siang itu terasa begitu panas bagi Rizka, mahasiswi cantik yang sedang menanti bus yang akan membawanya pulang di sebuah halte. Tangannya sibuk mengotak-atik
Handphone, membuka akun
Facebook dan
Twitter-nya seraya menghilangkan kejenuhan yang timbul karena terlalu lama menunggu.
Setelah beberapa menit, bus yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Ia pun menaruh kembali
Handphone-nya ke dalam tas lalu berdiri mengawasi jalan dan mulai gelisah. Tanpa sepengetahuannya, sedari tadi seorang pria ternyata sudah memperhatikan gerak-geriknya dan kerapkali mengawasi keadaan sekitar dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Saat dirasa aman, pria itu mendekati Rizka dan secepat kilat merampas tasnya.. Spontan Rizka berteriak, "Jambret! Tolong! Jambret!."
Mendengar teriakan gadis manis yang berulang-ulang itu, beberapa pria langsung mengejar jambret itu dan Rizka pun ikut mengejar di belakang gerombolan pria yang sama-sama ingin menjadi seorang pahlawan.
Sementara itu, bagai seorang Pelari Nasional yang tengah memperebutkan medali emas, si jambret berlari dengan cepatnya meninggalkan orang-orang yang mengejar dan meneriakinya. Orang-orang di pinggir jalan itu hanya melihat tanpa ada yang berani menghentikkan langkah seribunya. Namun, saat asyik berlari tiba-tiba seoarng pengamen langsung menghantamkan gitarnya ke muka jambret yang brewokan itu, membuatnya terjungkal sekaligus menghentikan pelariannya. Pengamne itu pun langsung merebut tas dari tangan si jambret yang mukanya tengah kesakitan. Sialnya lagi, belum sempat bangun, orang-orang yang tadi mengejarnya langsung menghadiahi bogem mentah kepadanya. Sungguh malang. Tapi untungnya, tak sampai babak belur karena keburu dilerai oleh si pengamen. Atas saran pengamen pula, mereka sepakat untuk menyerahkan pelaku kriminal kelas teri itu ke pihak yang berwajib.
Saat itu pula, Rizka yang tadi ikut mengejar baru sampai dengan terengah-engah dan berdiri sedikit bungkuk dengan kedua tangan di pinggangnya.
"Ini tas kamu?," tanya sang pengamen.
"Iya, terima kasih ya," jawab Rizka masih agak terengah-engah dan meraih tasnya yang disodorkan pengamen itu.
Pengamen itu hanya tersenyum manis lalu berbalik badan dan mulai melangkah kaki untuk pergi meninggalkannya. Rizka hanya diam terpaku dan tampaknya dia begitu terkesan dengan senyuman itu. Hal itu sejenak membuatnya lupa untuk mengecek tasnya. Mungkin saja isinya sudah tak ada, pikirnya.
Setelah sadar, ia pun langsung mengecek isi tasnya. Untuk saja isinya masih utuh termasuk
Handphone yang tadi ia simpan di tas tersebut. Tapi sebenarnya, bukan benda kotak yang menjadi nyawa kedua manusia saat ini itulah yang membuatnya khawatir, karena toh dia pasti bisa membelinya lagi bila hilang. Yang membuatnya khawatir adalah buku-bukunya yang berisikan banyak catatan penting berupa ilmu dan baginya ilmu tak bisa dibeli dengan uang meski pendidikan tentunya tak gratis 100%. Ditambah, dia malas untuk mencatat ulang bila catatan-catatan itu hilang.
Dia pun menarik nafas lega dan bersyukur karena isi tasnya masih utuh. Ia pun jadi teringat kembali oleh pengamen itu dan ingin menanyakan namanya. Tapi sayangnya, pengamen itu sudah hilang bersama siluetnya dan ia tak tahu kemana perginya. Akhirnya, ia memutuskan untuk kembali ke rencana awal yaitu pulang ke rumah.
***