Almarhum Ibuku pernah berkata seperti ini kepadaku: "Kamu sudah diberi jalan, Nak. Hanya saja jalan yang akan kamu lalui itu penuh beling dan duri. Nah, sekarang tinggal bagaimana cara kamu menyingkirkan pecahan beling dan duri-duri itu hingga sampai ke ujung jalan?"
Kata-kata singkat penuh makna itu selalu aku ingat karena itu adalah petuah terakhir ibu sebelum ia menghadap Illahi beberapa bulan yang lalu karena penyakit jantung yang telah lama dideranya atau setelah aku diterima di salah satu universitas terbaik di negeri ini dengan memperoleh beasiswa dari pemerintah.
Kematian ibu jelas membuatku terpukul. Terang saja, karena aku tak pernah menduga sebelumnya akan ditinggal secepat ini, sebelum aku dapat membahagiakannya. Saat Sang Malaikat Maut menjemput ibu, aku sedang menjalani Kamaba (Kegiatan awal mahasiswa baru) atau mungkin lebih dikenal dengan sebutan ospek.
Siang yang begitu panas di bulan puasa itu terasa tambah panas dan membuatku semakin berkeringat saat tetanggaku yang juga merupakan mantan teman kerja ibuku meneleponku, mengabarkan bahwa penyakit jantung ibuku kambuh lagi dan dalam kondsi yang gawat darurat. Aku bergegas pulang setelah meminta izin kepada panitia Kamaba.
Di sisi lain, ayahku, yang pada saat bersamaan sedang bekerja di bengkel juga langsung meminta izin pulang. Di dalam angkot yang penuh penumpang dan panas, rasa was-was dan khawatir membayangiku saat itu. Aku sangat takut sekali kehilangan ibuku yang lembut dan penuh kasih sayang sekalipun aku sering bandel di masa kecilku. Tetes air mata rasanya ingin mengalir tapi sekuat mungkin aku tahan di antara orang-orang tak kukenal yang berada di dalam angkot.
Seperempat jam berlalu. Terik bara neraka yang membakar tubuh serta pikiran menemaniku dalam setaip langkah menuju rumah selepas turun dari angkot. Namun, sesampainya di rumah, aku melihat para tetangga sudah penuh mengerubungi pelataran rumahku. Dari situ, aku menyadari sesuatu yang tak kuinginkan.
Aku masuk ke dalam rumah. Jasad ibu terbaring kaku dengan bibir yang sepertinya tersenyum.
"Ibumu meninggal 5 menit yang lalu, dek. Sabar ya," ujar salah seorang tetanggaku sambil merangkulku. Aku melepaskan diri dari rangkulannya dan menangis sesunggukkan tanpa sepatah kata apapun di depan jasadnya. Tak lama kemudian, ayah datang, yang kemudian ikut menyusulku menangis bersama. Suasana haru menyelubungi dinding, pintu, dan atap rumahku. Membuat mereka seakan ikut menangis.
Itu adalah saat-saat terakhir aku melihat wajah ibu. Kini, meski sudah tiada, kenangan bersamanya takkan pernah mati, begitu pula petuah terakhirnya. Aku akan menyingkirkan segala duri dan beling dan sampai di ujung jalan dengan senyum bahagia. Pasti.
***