Kematian menyelubungi udara.
Mereka harus pergi
dengan masker di hidung.
Tak ada lagi kerut tawa.
Yang ada hanya kerut heran.
Seakan tak percaya
kalau ketakutan mereka
selama ini, benar-benar terjadi.
Jalan sudah lengang.
Bangunan-bangunan membisu.
Cerobong asap pabrik tak merasa bersalah.
"Toh, ini bukan salah kami!", ujar mereka
lewat asap-asap yang masih tersisa.
M. Fathir Al Anfal (2011)
Wednesday, November 30, 2011
Monday, November 28, 2011
Lampu Taman
Dia berdiri tegak dengan empat kepalanya.
Tepat di tengah taman.
Tinggi.
Mengawasi setiap sudut taman.
Tak ada yang lepas dari jangkauan sinarnya
meski gelap sudah cukup mendominasi.
Termasuk cinta kita.
Cinta yang tak terkontrol
oleh iming-iming kenikmatan
yang disuguhkan dunia.
Bagai bumbu penyedap yang melengkapi
sebuah masakan.
Dia memang mati.
Tak bergerak.
Tapi, dialah satu-satunya mata
di tengah malam itu.
Menjadi saksi cinta kita.
M. Fathir Al Anfal (2011)
Sunday, November 27, 2011
Pudarnya Sebuah Keadilan
Seorang pria dengan wajah cemas dan gerak tubuh yang gelisah sedang menunggui istrinya di ruang tunggu sebuah rumah sakit swasta di pinggiran Ibukota. Sudah setengah jam istrinya dirawat di rumah sakit yang sudah berdiri sejak 25 tahun yang lalu tersebut. Bangunan rumah sakit itu berdiri megah dan kokoh di pinggir jalan yang nyaris tak pernah lengang. Ribuan orang sudah mati di sana, begitu pula yang kembali sehat. Ya, dari dulu sampai sekarang, rumah sakit tak pernah berubah. Tempat di mana orang akan mati atau orang akan sembuh. Dengan perantara tangan Dokterlah, nasib mereka-mereka yang sakit dipertaruhkan.
Dia berharap istrinya yang sebenarnya sudah lama sakit itu cepat sembuh. Nampak dari raut mukanya yang memelas, sebuah penyesalan yang tak diragukan lagi adanya.
Satu minggu yang lalu, istrinya mendadak sakit. Badannya panas dan suka muntah-muntah. Sebagai seorang suami, dia sudah sangat sigap menjaga istrinya yang sakit dan membelikannya obat tanpa membawanya ke rumah sakit karena sadar akan biaya yang pastinya tak mampu ia sanggupi yang hanya bekerja sebagai montir sebuah bengkel. Ia hanya mendoakan istrinya agar cepat sembuh. Namun, Tuhan belum berpihak kepadanya, doanya justru dibalas dengan apa yang tak diinginkannya. Sakit istrinya malah tambah parah. Namun dia bingung, harus dibawa kemana istrinya?
Tetangganya yang merasa kasihan memberi saran agar istrinya dibawa ke rumah sakit.
"Sudah Pak Bagio, bawa saja ke rumah sakit. Kasihan istrimu. Sebelum terlambat!", begitulah yang diucapkan Marni, tetangga terdekatnya.
"Biayanya? Saya tak punya uang untuk biaya rumah sakit."
"Ah Bapak, seperti di sinetron saja, sekarang Bapak bawa dulu saja istri Bapak, masalah biaya saya rasa pihak rumah sakit bisa mentolerin."
Mendengar penjelasan Marni yang sedikit menyejukkan hati itu, akhirnya ia memutuskan membawa istrinya ke rumah sakit itu dengan sepeda motornya.
***
Dia berharap istrinya yang sebenarnya sudah lama sakit itu cepat sembuh. Nampak dari raut mukanya yang memelas, sebuah penyesalan yang tak diragukan lagi adanya.
Satu minggu yang lalu, istrinya mendadak sakit. Badannya panas dan suka muntah-muntah. Sebagai seorang suami, dia sudah sangat sigap menjaga istrinya yang sakit dan membelikannya obat tanpa membawanya ke rumah sakit karena sadar akan biaya yang pastinya tak mampu ia sanggupi yang hanya bekerja sebagai montir sebuah bengkel. Ia hanya mendoakan istrinya agar cepat sembuh. Namun, Tuhan belum berpihak kepadanya, doanya justru dibalas dengan apa yang tak diinginkannya. Sakit istrinya malah tambah parah. Namun dia bingung, harus dibawa kemana istrinya?
Tetangganya yang merasa kasihan memberi saran agar istrinya dibawa ke rumah sakit.
"Sudah Pak Bagio, bawa saja ke rumah sakit. Kasihan istrimu. Sebelum terlambat!", begitulah yang diucapkan Marni, tetangga terdekatnya.
"Biayanya? Saya tak punya uang untuk biaya rumah sakit."
"Ah Bapak, seperti di sinetron saja, sekarang Bapak bawa dulu saja istri Bapak, masalah biaya saya rasa pihak rumah sakit bisa mentolerin."
Mendengar penjelasan Marni yang sedikit menyejukkan hati itu, akhirnya ia memutuskan membawa istrinya ke rumah sakit itu dengan sepeda motornya.
***
Subscribe to:
Posts (Atom)